Pabrik Kerupuk Bahagia Sukses Karena Ini

Ekonomi & Bisnis Featured Kota Bengkulu
Bagikan:

radarbengkuluonline.com, BENGKULU – Maman Darusman (64), salah seorang pengusaha, pengrajin sekaligus pemilik Pabrik Kerupuk Bahagia, sukses mengembangkan dan mempertahankan usaha kerupuknya hingga sekarang ini. Pabrik kerupuk miliknya, berlokasi di Jalan Bukit Barisan V, Rt 10, Rw 03, Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.

Sebelum merintis usahanya, Maman mengaku pernah ikut berjualan kerupuk di tempat pamannya dan sambil belajar disana. Maman bekerja ditempat pamannya selama 3 tahun. Yaitu, dari tahun 1978-1981. “Saya dulu ikut jualan kerupuk ditempat paman di daerah Padang Jati. Tepatnya, samping RRI,” ujar Maman saat ditemui radarbengkuluonline.com di pabriknya, Sabtu (15/01).

Setelah itulah, lanjutnya, dari dukungan istri dan keluarganya, Maman berpikir untuk memulai usaha kerupuk sendiri. Menariknya, ia bermodalkan pengalaman. Ia mengaku mendapat modal usaha dari hasil jualan kerupuk dulu. Bukan meminta kepada orang tua. Sebab, kedua orang tua Maman dulu hidupnya juga masih kekurangan. “Modal awal dari hasil keringat itulah, hasil jualan kerupuk. Jangankan ngasih modal, untuk makan saja hanya Rabu-Kamis. Makan pagi, sore nggak. Saking kurangnya kan.”

BACA DULU: Inilah Kiat Mahasiswa Milenial Hafal Al-quran 30 Juz dalam Setahun

Tentunya tidak mudah untuk seorang Maman memulai dan mengembangkan usaha kerupuk dari awal merintis sampai saat ini. Usahanya ini, Ia mulai sejak tahun 1981. Itu berarti sudah mencapai 41 tahun lamanya. Ia mengatakan, modal utama dalam usahanya adalah kejujuran, ketekunan, keuletan dan kesabaran. “Kalau nggak jujur, nggak mungkin sampai sekarang saya menjalankan usaha ini.”

Maman memiliki 6 karyawan tetap yang bekerja di pabriknya. Ia mengatakan, asal-usul nama pabriknya menjadi “Kerupuk Bahagia” karena diambil dari pengalaman yang ia rasakan sebelum memulai usahanya. Nama “Bahagia Ia buat sebagai julukan dan juga doa. “Yang tadinya sengsara, Alhamdulillah sekarang lebih dari cukup.”

Pabrik Kerupuk Bahagia, mampu memproduksi 1.000-2.000 bungkus kerupuk perharinya. Kerupuk yang sudah diproduksi dipasarkan ke warung-warung yang ada di Kota Bengkulu. Maman mengaku, sudah memiliki pelanggan tetap yang menerima titipan kerupuk-kerupuk dari pabrik produksinya. Bahkan pernah mengirimkannya sampai keluar kota. “Pernah ada juga ke Seluma dan Ketahun. Biasanya 40-60 bungkus.”

BACA DULU: Ini Dia Orang Bengkulu Yang Tersangkut Namanya di Jalan (26)

Pabrik kerupuk Maman memproduksi 2 jenis kerupuk saja. Yaitu kerupuk jalin dan kerupuk lipat dengan bahan yang berkualitas. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kerupuknya, yaitu tepung tapioka, tepung terigu, penyedap rasa dan ikan. Maman berencana ingin menambah macam kerupuknya. Tetapi, tidak jadi. “Repot kalau banyak macamnya. Sebenarnya, pengennya banyak, tapi harus nambah karyawan lagi.”

Omzet yang diraup oleh Maman sekarang ini bisa dibilang sangat besar. Yakni berkisaran sekitar Rp 22.500.000,-23.000.000/bulannya. Tentunya membutuhkan pengorbanan, waktu, dan proses yang panjang untuk sampai dititik seperti sekarang ini. “Kalikan aja, 100 bal/harinya dikali Rp 7.500. Rp 750.000/harinya.”

Dalam proses penjemuran kerupuk jalin dan lipat, Maman mengatakan membutuhkan waktu hanya 1 hari saja. Itu jika cuaca bagus dan mendukung. Namun sebaliknya, jika di musim penghujan, penjemuran kerupuk buatannya bisa memakan waktu yang lama. “Kalau cuaca tidak bagus, waktu penjemuran 2-3 hari.”

BACA JUGA: KSEI SEM-C UIN FAS Adakan Seminar dan Diklat Ekonomi Islam

Kerupuk yang dihasilkan dari pabrik milik Maman sangat berbeda dengan kerupuk lainnya. Kerupuk jalin dan kerupuk lipat hasil produksinya memiliki keunikan tersendiri. Baik bentuk, warna dan juga rasa yang enak. Maman mengaku, walaupun bahan-bahan pokok sekarang banyak naik dipasaran, Ia tidak akan pernah mengurangi rasa/bahan-bahan dalam pembuatan kerupuknya. “Nggak akan, tetap bertahan saja.”

Motivasi Maman dalam menjalankan usahanya ini sangat menyentuh hati. Ia hanya ingin membiayai kehidupan anak-anaknya agar bisa sekolah. Agar mereka tidak merasakan apa yang ia rasakan dulu. Diusia yang sudah tua, tidak banyak keinginan Maman untuk kedepannya. “Hanya ingin ke tanah suci dan mati husnul khotimah, tidak ingin beli mobil, tanah dan lain sebagainya.” (Mg-4)