Minyak Goreng Belum Turun, Pedagang Kehilangan Keuntungan

Ekonomi & Bisnis Featured
Bagikan:

radarbengkuluonline.com, BENGKULU – Harga minyak goreng di pasaran masih mahal dan belum juga ada tanda-tanda kembali stabil di pasaran setelah hari natal dan tahun baru 2021-2022 hingga Kamis (13/01) saat ini. Padahal, awalnya dikabarkan harga minyak goreng sudah turun awal Januari 2022.

Dodi Novran (38), salah seorang pedagang sembako di Pasar Panorama Kota Bengkulu amat mengeluhkan hal itu. Ia mengatakan, kenaikan harga minyak goreng saat ini, sangat berpengaruh dengan keuntungan yang ia dapatkan.
“Sebelum mengalami kenaikan keuntungan sekitar Rp 2.000,-/liternya dan sekarang hanya Rp 1.000,-/liternya. Ada kehilangan keuntungan 50%,” ujar Dodi kepada radarbengkuluonline.com tadi siang.

BACA JUGA: Sultan Belum Setuju Masa Jabatan Presiden Diperpanjang
Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, dikutip dari Bisnis.com, penyebab dari kenaikan harga minyak goreng ini dikarenakan harga sawit mentah yang semakin mahal.“Kenaikan harga minyak goreng ini sudah sangat lama. Sepertinya setelah lebaran tahun 2021 sudah mulai mengalami kenaikan,” ujar Dodi.

Berbagai merek minyak goreng yang mengalami kenaikan, yaitu minyak goreng merek Tawon, Rosbrand, Sania, Fortune, Bimoli, Sunco, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu, kenaikan harga minyak goreng juga sangat dirasakan oleh Mailan (70), seorang pedagang gorengan di Pasar Panorama, Kota Bengkulu. Ia mengatakan minyak goreng yang belum juga turun membuat ia kehilangan keuntungan dalam menjual gorengan sebesar Rp 150.000/harinya. “Penjualan sepi. Keuntungan sekarang hanya cukup untuk makan saja,” ujar Mailan.

BACA JUGA: PT. WKI Cek Lokasi Pelabuhan Mukomuko

Kenaikan harga minyak goreng yang tidak ada usainya ini, membuat Mailan harus memutar otak agar tidak rugi. Mailan mengatakan ada pikiran untuk menaikan harga gorengan atau sebaliknya, yaitu memperkecil gorengan, namun semua itu tidak ia lakukan karena memikirkan risiko yang akan terjadi. “Saya ingin menaikan harga gorengan atau memperkecil gorengan, namun takut tidak ada yang membeli,” ujar Mailan.

Mar (60), seorang Ibu Rumah Tangga juga mengeluhkan akan harga minyak goreng yang mahal. Ia mengatakan tetap membeli minyak goreng walaupun harga minyak goreng masih mahal. Ia mensiasatinya dengan berhemat menggunakannya. “Jadi lebih banyak masak sayur, biar lebih irit,” ujar Mar.(Mg-4)